Salahku: Tegur ke Jangan Tegur


Aku bukanlah seorang yang sempurna. Bukan juga semua tindakan yang aku buat itu betul. Oleh itu, kadangkala aku tidak sedar akan kesalahan yang aku lakukan. Aku tak nak jadi poyo. Perasan bagus konon… Aku perlukan cermin. Cermin yang akan menegur kesalahan yang aku buat.

Sememangnya lidah lebih tajam dari mata pedang.

Tajamnya pedang itu bisa membuatkan diri akan luka dan berdarah. Namun, luka ‘zahir’ itu boleh dirawat, diubati dan sembuh dalam tempoh yang singkat. Bagaimana pula dengan luka ‘batin’ itu? Luka akibat dari lidah yang amat ‘tajam’. Sudah tentu ia lebih sengsara ditanggung dan sukar diubati. Malah ia menjadi lebih parah hingga mewujudkan rasa dendam dan amarah yang terbuku di hati. Ya Allah, jauhilah aku dari wujudnya perasaan seperti itu.

Begitulah cabaran yang perlu dilalui dalam menangani isu untuk memberi teguran. Seringkali aku terfikir bagaimana menegur dengan lebih berhikmah. Memberi teguran atas rasa cinta dan tanggungjawab. Menegur agar kesilapan itu tidak akan berulang lagi. Aku juga ingin ditegur karena terkadang aku tersasar dari landasan yang sepatutnya. Namun, aku mengharapkan teguran yang lebih ikhlas dan berhikmah. Atau dengan kata lain, teguran yang lebih bermakna. Bukan dengan kutukan atau herdikan. Bukan dengan kata-kata yang amat pedih untuk diterima.

Jangan menyakiti andai diri tidak mahu disakiti.

Advertisements

Tagged: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: